Sandal kulit sang raja

Seorang Maharaja disebuah kerajaan akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan diluar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berfikir, “Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. Aku harus memperbaikinya.” (tutur dalam hatinya)

Maharaja akhirnya lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri.

Ditengah-tengah kesibukkan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja.”

Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut dengan “Sandal”

Apa yang bisa kita ambil dari pelajaran diatas ?
Ada pelajaran yang berharga dari cerita diatas itu. Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkalanya, kita sendiri yang harus merubah cara pandang kita, hati kita, dan dari kita sendiri, dan bukan dengan jalan mengubah dunia itu.

seperti prinsip yang pernah dikatakan oleh Aa Gym dengan rumus 3M diantaranya :

Mulai dari diri sendiri
Mulai dari hal yang terkecil
Mulai saat ini juga

Serta dalam firman ALLAH yang berbunyi : “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS :Ar Ra’d :11)

[768]. Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Karena kita sering keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia dalam pikiran kita, kadang kita hanyalah suatu bentuk personal. Dunia, diartikan sebagai milik kita sediri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat disana, sebab, seringkali dalam pandangan kita, dunia adalah bayangan diri kita sendiri.

Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakala yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit, atau, melapisi hati kita dengan kulit pelapis, agar kita dapat bertahan melalui jalan itu ?

Allah memberikan kita satu lidah, akan tetapi memberi dua telinga, agar supaya kita dua kali lebih banyak mendengar dari pada berbicara.

(La Rouncehefoucauld – ptr)

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: